• Jumat, 12 Agustus 2022

Sisa Cerita Pengrajin Perhiasan (Bagian 2-habis): Ditimpa Krisis, Bersaing dengan Pabrikan

- Minggu, 5 September 2021 | 17:09 WIB
Kamasan bertahan dari orderan. (dokumentasi medium.co.id)
Kamasan bertahan dari orderan. (dokumentasi medium.co.id)

MEDIUM.CO.ID - Pemilik Kamasan Mardian, Marna Sumarna bercerita, masa kejayaan pengrajin perhiasan perlahan habis setelah krisis ekonomi pada 1998 menghantam Indonesia. Harga emas melambung tinggi dari rata-rata Rp 27 ribu per gram di tahun 1997, menjadi Rp 75 ribu pada awal 1998.

"Pada saat itu (1998, red) banyak orang menjual perhiasan yang dimiliknya. Toko-toko yang saya tahu lebih banyak membeli ketimbang menjual. Dan itu berimbas ke kami. Tidak ada lagi orderan untuk membuat perhiasan," kenang Marna sambil sesekali tatapannya menerawang jauh.

Baca Juga: Sisa Cerita Pengrajin Perhiasan (Bagian 1): Pernah Berjaya Pada Jamannya

Ditambah, kata dia, pada periode itu sudah mulai banyak toko yang membeli perhiasan langsung dari pabrik. Pertimbangannya, harga perhiasan jauh lebih murah dengan banyak model.

"Ya, namanya pakai mesin, pasti bisa memproduksi lebih banyak dan lebih cepat ketimbang manual seperti kami. Pabrik juga menyediakan lebih banyak model perhiasan dan lebih variatif, ujar Marna.

Baca Juga: Sejarah Kopi Cianjur di Jaman Kolonial: Pohon Pertama Gagal (Bagian 1)

Marna menyebutkan, saat ini harga emas sudah lebih dari Rp 800 ribu per gram, perhiasan pun lebih banyak modelnya, sehingga berpengaruh besar pada industri kamasan yang sudah digelutinya dari tahun 1980 tersebut.

"Perajin tinggal seorang. Spesialis membuat liontin nama, cincin wanita, kalung wanita," tuturnya.

Baca Juga: Sejarah Lampegan (1): Terowongan Kereta Api Tertua di Jawa

Ujang (50), salah seorang perajin yang masih bertahan menyebutkan, saat ini tidak banyak pesanan membuat perhiasan yang datang kepada dirinya.

Halaman:

Editor: Deden Abdul Aziz

Tags

Terkini

Terpopuler

X