• Selasa, 5 Juli 2022

Sejarah Lampegan (3): Catatan Perjalanan Letnan HCC Clockener Brousson

- Jumat, 20 Agustus 2021 | 13:00 WIB
Perkampungan yang dilalui dalam perjalanan Clockener Brousson. (dokumen kitlv)
Perkampungan yang dilalui dalam perjalanan Clockener Brousson. (dokumen kitlv)

MEDIUM.CO.ID - Selusin tahun setelah Halte Lampegan diresmikan, sebuah catatan perjalanan yang dibuat oleh Letnan HCC Clockener Brousson menyebut nama Lampegan dalam artikel yang ditulisnya di surat kabar Kleine Courant Edisi 3244, 19 Maret 1904.

Brousson adalah seorang perwira veteran Perang Aceh yang sangat tertarik pada jurnalisme. Selain pernah menjadi wartawan koran tentara Soldatenkrant yang terkenal di Batavia, Brousson juga adalah pemilik majalah Bandera Wolanda serta bekerja sama dalam bidang jurnalisme dengan tokoh-tokoh pers Indonesia seperti Abdul Rivai serta Tirto Adhi Suryo.

Dari catatan perjalanan tersebut bisa diketahui bahwa Brousson sengaja datang mengunjungi Cianjur untuk suatu keperluan dan duduk sebagai penumpang Kelas 1 bersama pegawai pemerintahan Hindia Belanda yang mengenalnya.

Baca Juga: Sejarah Lampegan (2): Proyek Konstruksi Jalur KA Buitenzorg-Preanger

Selain dengan detail menuliskan pengalaman visualnya selama perjalanan, Brousson juga menyampaikan sebuah pengalaman lucu dalam perjalanan, data-data yang dibacanya dari The Encyclopaedic of Dutch Indie, serta melampirkan sebuah foto perkampungan yang dilaluinya.

Di bawah ini adalah tulisan Brousson dalam catatan perjalanan tersebut:

"Kami telah melintasi perhentian kereta di Gandasoli dan Cirenghas. Di Gandasoli, kami meninggalkan dataran Sukabumi dan memasuki wilayah Gunung Cimandiri. Di sebelah kiri, kami bisa melihat Gunung Kancana (1240 meter) dan di sebelah kanan kami melihat Gunung Melati (1205 meter).

"Kedua gunung tersebut terlarang untuk didaki karena kecuramannya, sementara air berkilauan di sungai-sungai yang mengalir ke arah barat menuju Wijnkoopsbaai (Palabuhan Ratu, red) untuk kemudian menyatu dengan lautan di pesisir utara Pulau Jawa. Sungai-sungai inilah yang memisahkan Sukabumi dan Cianjur.

"Pada tahun 1882, sebuah terowongan sepanjang 683 meter telah didirikan di lereng gunung. Saat kami melewatinya, pemandangan mendadak gelap dan beberapa penumpang yang ketakutan kemudian menyalakan lilin karena dengan begitu banyak dan bercampurnya penumpang dalam gerbong, kita tidak tahu siapa saja di sekeliling kita!

"Aku bertanya pada bocah perempuan kecil yang ada di dekatku: Takut apa? Tapi kata-kata penghiburanku rupanya justru membuat sang bocah tambah ketakutan, karena dengan memegang lilin menyala di tangan, bocah kecil itu malah berlari menjauh.

Halaman:

Editor: Deden Abdul Aziz

Tags

Terkini

Terpopuler

X